Bantu Anak Putus Sekolah Bersama Teplok!

    Author: Detik Photo Genre: »
    Rating

    Keprihatinan atas dunia pendidikan harusnya memang diwujudkan dalam tindakan nyata....

    Rasa-rasanya miris melihat wajah pendidikan di negeri ini. Sebab, kendati pemerintah selalu menggembar-gemborkan sekolah gratis 9 tahun, namun faktanya masih saja ada orangtua yang tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya. Memang benar bahwa pemerintah sudah membebaskan biaya iuran sekolah, tetapi buku, peralatan menulis, seragam, dan lain-lain – termasuk sumbangan ini-itu dari pihak sekolah, yang tak jelas resmi tidaknya. Dan biaya-biaya tetek bengek itulah yang selalu menghantui orangtua murid ketika memasuki tahun ajaran baru.
    Komunitas Teplok

    Berangkat dari keprihatinan tersebut, maka berdirilah sebuah komunitas bernama Teplok. Asal-muasal berdirinya komunitas ini adalah dari kegelisahan 4 sekawan yang tinggal di kawasan Kebon Kelapa, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang melihat kenyataan bahwa di daerah tempat mereka tinggal masih banyak anak-anak yang harus putus sekolah karena ketiadaan biaya, yang disebabkan oleh minimnya kesejahteraan.
    Tak mau berdiam diri, akhirnya mereka pun sepakat untuk membuat komunitas yang khusus membantu biaya pendidikan bagi mereka yang membutuhkan. Untuk mengumpulkan dananya sendiri, mereka lakukan secara swadaya, yaitu dengan cara menyebarkan kotak-kotak amal kepada pihak donatur yang ingin membantu.

    “Setiap bulannya, secara rutin kita mengumpulkan dana yang ada di kotak tersebut dan didistribusikan kepada anak asuh,” kata Djaya Cahyadi, Sekretaris Teplok.

    Menurut Djaya, saat ini komunitas mereka telah memiliki 35 donatur, yang setiap bulannya rela menyisihkan dana untuk pendidikan anak-anak yang kurang mampu itu. Kebetulan, para donatur ini kebanyakan merupakan warga yang tinggal di RT 04 dan RT 05 Kebon Kelapa, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
    Djaya.

    Melalui dana yang mereka kumpulkan setiap bulannya itu, mereka telah membantu sembilan anak yang putus sekolah. Mulai dari membelikan seragam sekolah, buku pelajaran, buku tulis, peralatan menulis, hingga uang saku. Tidak hanya itu, para anggota Teplok ini juga tidak segan untuk datang ke sekolah mewakili orangtua murid, untuk mengambil raport ataupun menghadiri rapat orangtua murid.

    Ijong, salah satu anak asuh. (Foto: Dok. Teplok)



    Dalam kegiatannya, komunitas ini membagi dua bentuk bantuan kepada anak asuh mereka. Yang pertama, adalah beasiswa subsidi, yakni bantuan yang diberikan secara tidak penuh, hanya berupa buku tulis, peralatan menulis, dan lain-lain. Dan satu lagi adalah beasiswa penuh, yakni bantuan yang diberikan secara menyeluruh, mulai dari seragam, sepatu, tas, hingga biaya transport.

    Selain memberikan bantuan pendidikan, ternyata komunitas ini juga mengadakan kegiatan-kegiatan lain yang dapat merangsang pengetahuan anak asuhnya. Contohnya seperti mengadakan kegiatan studi tur mengunjungi museum-museum, yang belakangan baru mereka adakan. “Tidak hanya itu, kita juga membuat perpustakaan, yang saat ini telah memiliki ratusan buku dari berbagai disiplin ilmu,” kata Djaya.

    Perpustakaan Teplok. (Foto: Dok. Teplok)

    Lalu bagaimana dengan masalah transparansi? Mengenai masalah ini donatur tidak perlu khawatir, karena setiap bulannya komunitas ini selalu memberikan laporan pengeluaran secara terperinci kepada donatur. Djaya mengatakan, dirinya berharap, masyarakat di daerah lain bisa termotivasi untuk membuat gerakan yang sama, yakni peduli terhadap kelangsungan pendidikan anak-anak yang putus sekolah. “Sebenarnya kita nggak perlu kok menungu pemerintah, karena dengan swadaya dari kita saja sudah cukup untuk membantu mereka,” jelas Djaya.

    Jadi, marilah berhenti berwacana dan yuk kita bantu mereka! Caranya, Anda cukup menyalurkan sisihan rezeki Anda ke rekening nomor 5455194102, Bank BCA, atas nama Fairuz Fadila.
    Kalau bukan kita, siapa lagi yang dapat membantu mereka...

    Leave a Reply